Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 31 Januari 2025

Pertolongan pertama pada saat digigit ular berbisa






 Tiga hari yg lalu keluargaku dipatok ular hijau ekor merah, ular yg sangat berbisa/hematotoxin dan tidak ada anti bisa ularnya diIndonesia, panik jelas...apalagi sebelumnya ada kasus meninggal dg ular yg sama, beruntung saya teringat dr.Tri Maharani (satu2 nya ahli bisa ular diIndonesia), saya langsung telp dan dipandu trs unt penanganannya, penangan awal yg salah (diikat, dikeluarkan darahnya/ insisi dll) berakibat fatal ( kematian)...krn obatnya tidak ada satu2nya jalan agar tidak fatal dg First Aid dan imobilisasi yg benar( kanan dan kiri bagian yg sakit diberi kayu agar tidak bs gerak shg racun ular tdk menyebar) .Alkhamdulillah setelah melewati masa kritis observasi 48jam tidak terjadi sistemik...ternyata penanganan awal yg tepat sangatlah penting, sederhana tp bs menyelamatkan ribuan nyawa, sayangnya banyak kasus datang sdh kondisi sistemik krn salah penanganan awal...semoga informasi ini bs memberi manfaat bagi teman2 semua.salam sehat.

NB: banyak komen yg menghujat krn tdk faham , padahal sdh dijelaskan penanganan awal yg benar langsung imobilisasi dan fisrt aid (kanan kiri bagian yg sakit diberi kayu agar tidak bs gerak shg racun ular tdk menyebar)

Oentoeng Soerapati

 


Kesaktian Untung Suropati menarik diulas. Salah satuny adalah saat pertempuran sengit antara pasukan Untung Surapagi dengan pasukan VOC Belanda di bawah pimpinan Kapten Tack.


Pertempuran tersebut konon membuat Untung Surapati kerepotan karena pasukan VOC Belanda memiliki persenjataan canggih.


Dikisahkan dari Untung Surapati Melawan VOC Sampai Mati : Kisah dan Sejarah Hidup Untung Surapati Sejak Jadi Budak hingga Pahlawan" karya Sri Wintala Achmad, Untung Surapati mengamuk seperti banteng terluka, banyak tentara VOC yang berhasil dibunuh dengan tikaman kerisnya.


Nyali Untung Surapati membuat nyalinya berkobar-kobar Untung Surapati mendekati Kapten Tack. Namun pasukan VOC melindungi pemimpinnya dengan menembaki Untung Surapati. Tetapi sekali lagi bukan Untung Surapati ketika tak gentar melawan VOC.


Di saat bersamaan, beberapa petinggi Kasunanan Kartasura macan Patih Anrangkusuma, Ebun Jaladria turut bergabung dan membantu pasukan Untung Surapati. Otomatis perang antara Untung Surapati dan pasukan Kapten Tack kian seru dan ramai.


Ebun Jaladria dikisahkan juga berperang dan berduel melawan seorang Letnan VOC. Pada peperangan itu, tak butuh waktu lama bagi Ebun Jaladria untuk berhasil membunuh musuhnya dengan kerisnya.


Sementara dikisahkan Untung Surapati menghadapi seorang kapten bernama Kapten Brikman. Pada Babad Trunajaya Surapati dikisahkan, keduanya saling berduel satu lawan satu.


Beberapa kali hantaman Untung Surapati ke Kapten Brikman tak membuat sang kapten ini terluka. Sebaliknya Brikman membalas dengan hunusan pedang, tetapi Untung Surapati yang konon memiliki kesaktian sama sekali tak terluka.


Brikman kemudian nekat menggigit leher Untung Surapati, Untung yang merasa jijik langsung berlari mundur. Tetapi ia teringat oleh patrem yang disimpan di kantong celananya. Ia pun kemudian menghantamkan patrem itu ke leher Brikman, hingga nyaris putus. Brikman tewas seketika di lokasi kejadian.


Tewasnya Brikman membuat Untung Surapati beserta pasukannya semakin bersemangat. Sebaliknya, pasukan Kapten Tack di bawah panji VOC, kian mengendor akibat banyak anggotanya yang tewas. Melihat pasukan Untung Surapati yang di atas angin, Sunan Amangkurat II konon merasa senang saat menyaksikan dari sitihinggil.


Kapten Tack pun geram melihat kaptennya Brikman terbunuh di tangan Untung Surapati, ia lebih geram lagi saat melihat pasukannya banyak yang terbunuh termasuk perwira menengah yang ditikam oleh Ebun Jaladria. Ia pun merapatkan barisan pasukannya untuk menata kembali, sebelum akhirnya kembali maju melawan pasukan Untung Surapati. Kapten Tack berada di barisan depan segera berperang kembali melawan Untung Surapati.


Pasukan Tack memberondong timah panas ke pasukan Untung Surapati. Tetapi kemudian pasukan Untung Surapati serta Patih Anrangkusuma kembali menyerang dan berhasil menghabisi beberapa pasukan VOC. Tetapi pasukan Untung Surapati sempat dibuat kerepotan melawan VOC, sehingga Sultan Amangkurat II menginstruksikan Pangeran Puger maju turut membantu dengan membawa pusaka tombak Kiai Pleret yang dikenal sakti.


Agar tidak diketahui VOC, Pangeran Puger yang sebetulnya memiliki hubungan dekat dengan VOC mengenakan seragam perang sebagaimana dikenakan prajurit Untung Surapati. Pangeran Puger dan pasukannya juga turut berbaur dengan pasukan Untung Surapati, dan menjadi sumber kekuatan baru bagi Untung Surapati.


Pasukan VOC pun menembaki Pangeran Puger dengan timah-timah panas. Tetapi peluru-peluru itu tak melukai tubuhnya sama sekali kendati sebenarnya mengarah ke sasaran. Hingga pada suatu momen Pangeran Puger berhasil menusukkan tombak Kiai Pleret tepat ke dada Kapten Tack yang membuat sang kapten tewas seketika.


Sepeninggal Kapten Tack, Pangeran Puger yang bergabung dengan pasukan Untung Surapati membantai seluruh anggota pasukan VOC. Alun-Alun Kartasura berubah menjadi kuburan massal bagi tentara VOC yang seluruhnya tewas akibat serangan pasukan gabungan. Kemenangan pun diraih oleh pasukan Untung Surapati, yang didukung oleh pasukan pimpinan Patih Anrangkusuma, Ebun Jaladria dan Pangeran Puger.


Keberhasilan ini juga menjadikan Untung Surapati tak jadi ditangkap oleh VOC, sehingga kemenangan ini juga akhirnya dirayakan dengan berpesta pora oleh pihak Kasunanan Kartasura.


Sumber: nasional.okezone . com

Selasa, 21 Januari 2025

Sejarah Pageblug Wabah Pes Di Jaws



 

Ketika Pagebluk Pes yang Mematikan Menerjang Jawa 1910-1916

Galih PranataSelasa, 14 Januari 2025 | 14:00 WIB
Pemerintah kolonial Belanda telah berupaya untuk merenovasi rumah-rumah tradisional Jawa di Malang yang diduga berpotensi besar dalam persebaran pes di Jawa 1910-1916.
Pemerintah kolonial Belanda telah berupaya untuk merenovasi rumah-rumah tradisional Jawa di Malang yang diduga berpotensi besar dalam persebaran pes di Jawa 1910-1916. (Neville Keasberry)

Nationalgeographic.grid.id—Wabah pes melanda pulau Jawa beberapa kali selama zaman Hindia Belanda berlangsung. Wabah yang menyebabkan jutaan kematian jiwa. Musibah paling mematikan yang belum pernah ada dalam kronik perwayangan sekali pun.

Dalam buku gubahan Maurits Bastiaan Meerwijk berjudul A History of Plague in Java, 1911-1942 terbitan tahun 2022, disebutkan bahwa Yersinia pestis atau wabah pes pertama kali menyerang Jawa Timur.

Saat itu, orang-orang di Jawa Timur mengenalnya dengan istilah sampar. Kasus pertama diketahui terjadi pada bulan November 1910 di desa Turen, kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Dilaporkan pada akhir tahun 1910, 17 orang tewas setelah terpapar.

Wabah ini menyebar dengan cepat, tersebar di hampir seluruh pelosok Jawa Timur dalam jangka waktu setahun. Dalam dua tahun berikutnya, wabah ini menyebar ke banyak daerah, bahkan hingga mencapai Jawa Barat.

Wabah ini disebabkan oleh bakteri yersinia pestis, yang ditularkan melalui kutu pada hewan yang terinfeksi, terutama hewan pengerat liar, seperti tikus. Wabah ini sejatinya telah melanda Eropa dan Asia Tengah sejak abad pertengahan.

Bakteri mengerikan ini pertama kali datang ke Jawa dengan menumpang dalam sebuah kapal kargo yang mengangkut beras dari Burma (sekarang Myanmar). Kapal itu diperkirakan menurunkan beras yang membawa tikus-tikus terinfeksi di Pelabuhan Surabaya.

"Ketika tikus—yang terjangkiti pes—mati, maka kutu atau pijal bisa berpindah ke manusia atau binatang lain dan menggigit mereka. Melalui gigitan itulah, bakteri pes berpindah dari kutu tikus ke manusia," tulis Martina Safitry.

Martina menulisnya dalam Jurnal Sejarah berjudul Kisah Karantina Paris of the East: Wabah Pes di Malang 1910-1916 yang diterbitkan Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia pada tahun 2020. 

Pada permulaan terjangkitnya, seseorang akan mengalami demam, sakit kepala, dan bengkak atau bisul pada kelenjar getah bening yang menyakitkan, biasanya terdapat di ketiak, selangkangan atau belakang telinga.

Menurut Martina, "jenis ini dapat mematikan manusia dalam hitungan dua-tiga hari saja." jenis penyakit pes yang mewabah di Hindia Belanda adalah bubonic plague atau pes kelenjar (bisul).

Faktor cuaca akan sangat menentukan terjadinya epidemi penyakit yang mematikan ini. Perubahan musim merupakan faktor penentu kekebalan bakteri pes dan tipe penyakit yang ada pada manusia.Pemerintah kolonial Belanda telah berupaya untuk merenovasi rumah-rumah tradisional Jawa di Malang yang diduga berpotensi besar dalam persebaran pes di Jawa 1910-1916. (Neville Keasberry)

Mengutip dalam surat kabar Pewarta Soerabaja edisi 2 April 1911, Martina menjelaskan jika pada awalnya tidak ada yang mengira penyakit pes akan muncul dan memakan korban di Hindia Belanda.

Penderita yang terpapar lalu meninggal kala itu, hanya dikira menderita tifus atau malaria yang disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening atau bisul. 

Namun, orang-orang mulai curiga setelah para penderita kemudian tewas dalam kurun 48 jam setelah ditemukan adanya bisul atau kelenjar pada ketiak, leher, atau persendian lain penderitanya.

Kecurigaan bahwa penyakit yang beredar di masyarakat adalah jenis penyakit baru disampaikan oleh Dokter Wydenes Spaans, kepala dinas kesehatan Surabaya, kepada Geneeskundige Laboratorium (laboratorium kedokteran) di Weltevreden, Batavia.

Para dokter yang bekerja di Malang menemukan pertama kali wabah baru ini dari sampel darah milik Raden Adjeng Moerko, istri seorang guru Pribumi di sisi wilayah Distrik Penanggoengan, Malang pada Maret 1911.

Berdasarkan temuan itu dan penelitian awal yang dilakukan oleh Dokter De Vogel, maka pada 5 April 1911 pemerintah melalui Direktur Burgerlijk Geneeskundig Dienst (Dinas Kesehatan Sipil) Dokter De Haan mengumumkan bahwa Afdeeling Malang ditetapkan sebagai wilayah yang terinfeksi pes.

Pemerintah HIndia Belanda memberikan imbalan kepada warga untuk pemberantasan pes. Tikus yang tertangkap kemudian dibakar. Kebanyakan tikus-tikus sawah, padahal tikus rumah adalah pembawa kutu yang terinfeksi bakteri Yersenia pestis.
Pemerintah HIndia Belanda memberikan imbalan kepada warga untuk pemberantasan pes. Tikus yang tertangkap kemudian dibakar. Kebanyakan tikus-tikus sawah, padahal tikus rumah adalah pembawa kutu yang terinfeksi bakteri Yersenia pestis. (Neville Keasberry)

Dalam hemat Maurits Meerwijk, rumah-rumah tradisional Jawa juga turut berkontribusi dalam persebaran wabah pes secara masif. 

Menurut Meerwijk dalam bukunya, rangka bambu berongga dan atap jerami yang ada pada rumah-rumah Jawa menyediakan tempat persembunyian bagi tikus, yang berpotensi menularkan wabah pes pada manusia.

Maka setelahnya, "pemerintah kolonial Belanda secara berangsur-angsur mulai merenovasi atau membangun kembali sekitar 1,6 juta rumah," imbuh Meerwijk.

Tanggapan dari pemerintah kolonial Belanda tersebut sangat efektif sebagai propaganda untuk mengubah struktur rumah tradisional Jawa, sehingga pembangunan terus berlanjut bahkan ketika vaksinasi sudah tersedia.

Selama menguarnya sampar di sepanjang tahun 1913 dan 1914, diketahui sekitar 15.000 orang sedikitnya tewas di tangan wabah ini. Pemerintah Hindia Belanda membentuk Layanan Wabah Khusus pada tahun 1915 untuk menanggulangi penyebaran wabah pes di Jawa.

Dinas Khusus Wabah ini merupakan satuan tugas gabungan yang menggabungkan Dinas Kesehatan Sipil, pemerintah daerah, dan Dinas Teknis. Bersinergi dalam mengentaskan Jawa dari wabah yang mematikan pertama kali sepanjang sejarah Jawa.

Selasa, 14 Januari 2025

Kisah Perang Pangeran Diponegoro

 Pada 28 Juli 1825, Pangeran Diponegoro berkumpul di Selarong bersama para tokoh yang membantunya dalam peperangan terhadap penjajah Belanda. antara lain Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto, Suryodipuro, Kiai Mojo, Pangeran Ronggo, Ngabehi Mangunharjo, dan Pangeran Surenglogo.

Setelah Belanda mendatangi dan membakar kediamannya di Tegalrejo, P. Diponegoro memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyuda, dan Hanggowikromo untuk memobilisasi orang desa di sekitar Selarong agar siap berperang melawan Belanda.

Selanjutnya, P. Diponegoro mengirim surat kepada para pemimpin pasukan di wilayah Kesultanan Yogyakarta, yang berada di Kedu, Bagelen, Banyumas, Serang, Monconegoro Timur (Magetan, Madiun, Rajegwesi, Kertosono, Berbek, Ngrowo), serta demang di perbatasan lainnya, untuk memerangi Belanda.

Pangeran Diponegoro juga membagi daerah perang dan menyusun struktur organisasi militer meniru organisasi tentara Kerajaan Turki Utsmani.

Dalam Perang Jawa, Pangeran Diponegoro menamai pangkat untuk pemimpin tertinggi sebagai "Alibasah".

Beberapa Alibasah dan Basah yang ditunjuk oleh Pangeran Diponegoro di antaranya:

- Alibasah Sentot Prawirodirjo

- Alibasah Kerto Pengalasan (Tumenggung Wiryodirejo)

- Alibasah Mohammad Ngusman

- Basah Gondokusumo

- Basah Mertonegoro

- Basah Ngabdul Latip

Selain tokoh-tokoh tersebut, masih banyak yang membantu Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa, di antaranya:

Pangeran Suryologo

Tumenggung Mangkudirejo (Pangeran Mangkudiningrat)

Pangeran Notoprojo

Tumenggung Mertoyudo (Pangeran Wiryonegoro)

Pangeran Suryokusumo

Tumenggung Reksoprojo

Pangeran Abu Bakar

Tumenggung Handangtoro

Tumenggung Gajah Pernada

Tumenggung Hadiwinoto

Tumenggung Martodipuro

Tumenggung Sumodilogo

Tumenggung Joyomustopo

Tumenggung Hadisuryo

Tumenggung Sumonegoro

Tumenggung Seconegoro

Tumenggung Sumodiwiryo

Pangeran Surodilogo

Tumenggung Ranupati

Pangeran Suryonegoro

Pangeran Surodinegoro

Warsokusumo

Tumenggung Kertodirjo

Tumenggung Mangkunegoro

Tumenggung Kolopaking IV

Tumenggung Kertanegara IV

Tumenggung Jogonegoro

Dan masih banyak lagi.

Manusia Wadjak (Homo Wadjakenses)

  Tahun 1888 ditemukan tengkorak manusia di Wajak Tulungagung Jawa Timur, tengkorak itu diberi kode nama sebagai Manusia Wajak. Pada awalnya...