Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 24 Februari 2025

Prasasti Luzon Jawa

 Prasasti Lempengan Tembaga Laguna: Luzon, Jawa, dan Dunia Melayu dari Abad Ke-10


Pendahuluan


Prasasti Tembaga Laguna (Laguna Copperplate Inscription, LCI) adalah satu-satunya dokumen tertulis dari periode pra-kolonial Filipina yang bertanggal pasti (21 April 900 M). Prasasti ini mencatat pembebasan hutang seseorang dan ditulis dalam bahasa Melayu Kuno (Old Malay, OM) menggunakan aksara Indic, yang umum digunakan di Asia Tenggara Maritim. Artikel ini mengkaji LCI dalam konteks yang lebih luas, membandingkannya dengan dokumen sezaman dari Jawa dan dunia Melayu.


Konteks Historis dan Linguistik


LCI ditemukan di Sungai Lumbang, Filipina, sekitar tahun 1986, dan kemudian dikonfirmasi sebagai dokumen autentik oleh Antoon Postma. Studi sebelumnya cenderung menempatkan prasasti ini dalam konteks lokal Filipina, tetapi artikel ini menekankan dimensi transregionalnya.


Bahasa yang digunakan dalam LCI adalah OM dengan pengaruh bahasa Jawa Kuno (Old Javanese, OJ) dan Sansekerta. Dalam artikel ini, Clavé dan Griffiths menyoroti bagaimana bahasa Melayu digunakan sebagai lingua franca dalam dokumen resmi di Asia Tenggara, yang menunjukkan adanya interaksi ekonomi dan budaya antara Filipina, Jawa, dan dunia Melayu.


Struktur dan Isi Prasasti


LCI memiliki ukuran 17,5 cm x 30,5 cm dan ditulis pada satu sisi. Teksnya mencatat pembebasan seorang perempuan bernama Si Bukah, anak dari Dang Hwan Namwran, dari hutang sebesar 1 kati dan 8 suvarna emas. Pembebasan hutang ini diberikan oleh pejabat bernama Jayadeva, yang merupakan seorang senapati di Tundun. Saksi-saksi dalam dokumen ini termasuk pejabat dari berbagai daerah seperti Puliran Kasumuran, Pailah, dan Binwangan.


Perbandingan dengan Prasasti Jawa dan Dunia Melayu


LCI memiliki beberapa kemiripan dengan prasasti tembaga dari Jawa dan Bali, yang juga menggunakan OM dan OJ dalam konteks administratif. Dokumen semacam ini sering digunakan untuk mencatat status pajak atau pembebasan hutang, seperti yang ditemukan dalam berbagai prasasti di Indonesia. Konsep viśuddhapātra (dokumen pembebasan hutang) dalam LCI juga ditemukan dalam inskripsi di Jawa dan Sumatra.


Salah satu inovasi unik dari Asia Tenggara Maritim yang ditemukan dalam LCI adalah penggunaan tembaga sebagai media pencatatan pembebasan hutang, berbeda dengan India yang lebih sering menggunakan media lain untuk pencatatan dokumen semacam ini.


Makna Sosial dan Budaya


Penulisan dalam bahasa OM menunjukkan bahwa bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa administrasi di Filipina abad ke-10, mendukung gagasan bahwa wilayah ini terhubung erat dengan jaringan perdagangan dan budaya di Asia Tenggara. Artikel ini juga menentang teori lama bahwa pengaruh Melayu hanya berasal dari migrasi, melainkan lebih sebagai hasil dari interaksi perdagangan dan politik.


Dalam konteks lokal, LCI menunjukkan adanya sistem sosial yang kompleks di Luzon pada abad ke-10, di mana hutang dapat diwariskan dan dibebaskan melalui dokumen resmi. Penggunaan gelar-gelar seperti dang hwan dan nāyaka tuhān menunjukkan adanya sistem birokrasi yang terorganisir, mirip dengan sistem pemerintahan di Jawa dan Sumatra.


Alih Aksara

Teks Prasasti Tembaga Laguna

(Alih aksara berdasarkan studi Clavé & Griffiths 2022, dengan perbaikan ejaan sesuai kaidah transliterasi epigrafi OM dan OJ)


```

(1) svasti śakavarṣātīta 822 vaisākhamāsa diṁ jyotiṣa, caturthi 

kr̥ṣṇapakṣa so(2)mavāra sāna tatkāla dayaṁ Aṅkatan· lavan· dṅan·ña 

sānak· barṅāran· si bukaḥ 

(3) Anak·da daṁ hvan namvran· dibari varadāna viśuddhapātra 

Uliḥ saṁ pamgat· senāpati di tuṇḍu(4)n· barjā daṁ hvan nāyaka tuhān· 

pailaḥ jayadeva, di krama daṁ hvan namvran· dṅan· daṁ kāya(5)stha 

śuddhānu diparlappas· hutaṁda valānda kā 1 su 8 di hadapan· daṁ hvan 

nāyaka tuhān· pu(6)liran· kasumuran·, daṁ hvan nāyaka tuhān· pailaḥ 

barjādi gaṇaśakti, daṁ hvan nāyaka tu(7)hān· binvāṅan· barjādi 

biśruta tathāpi sādānda sānak· kaparāvis· Uliḥ saṁ pamgat· de(8)vata 

varjādi saṁ pamgat· mḍaṁ dari bhaktinda diparhulun· saṁ pamgat·, ya 

makāña sādāña Anak· 

(9) cucu daṁ hvan namvran· śuddha ya kaparāvis· di hutaṁda daṁ 

hvan namvran· di saṁ pamgat· devata, Ini graṁ (10) syāt· syāpa ntāha 

paścāt· diṁ Āri kamudyan· Āda graṁ Uraṁ barujara vluṁ lappas· 

hutaṁda daṁ hva-

```


---

Alih Bahasa


(1) Selamat! Tahun Śaka yang telah berlalu 822, bulan Waisakha menurut ilmu 

astrologi, hari keempat (tithi) dari paro gelap bulan, hari Senin: 

(2) itulah waktu ketika seorang pelayan perempuan (dayaṅ) bernama Si Bukah, 

bersama saudara-saudaranya,

(3) anak dari Daṅ Hvan Namwran, diberikan anugerah berupa dokumen pembebasan hutang (viśuddhapātra).

(4) [Dokumen ini diberikan] oleh Saṅ Pamgat Senapati di Tuṇḍun, dengan gelar Daṅ Hvan Nāyaka Tuhān Pailaḥ Jayadeva.

(5) Mengenai perkara Daṅ Hvan Namwran, bersama seorang juru tulis (kāyastha), hutangnya sebesar 1 kati dan 8 suvarna,

(6) yang dicatat di hadapan para saksi: Daṅ Hvan Nāyaka Tuhān Puliran Kasumuran,

(7) Daṅ Hvan Nāyaka Tuhān Pailaḥ dengan gelar Gaṇaśakti, dan Daṅ Hvan Nāyaka Tuhān Binvāṅan dengan gelar Biśruta.

(8) Namun, oleh pejabat yang disebut Saṅ Pamgat dari Mdang, karena kesetiaan mereka saat diperbudak oleh Saṅ Pamgat,

(9) semua anak dan cucu dari Daṅ Hvan Namwran juga dibebaskan dari hutangnya kepada Saṅ Pamgat Devata.

(10) Jika ada seseorang di masa depan yang meragukan ini, atau berkata bahwa hutang ini belum dilunasi, maka...


Pengaruh Jawa dalam Laguna Copperplate Inscription (LCI) sangat terlihat dalam beberapa aspek utama, yaitu bahasa, sistem administrasi, gelar pejabat, serta format dan isi prasasti. Berikut adalah beberapa poin yang menunjukkan pengaruh kuat dari Jawa, khususnya dari Kerajaan Medang:


1. Penggunaan Aksara

Prasasti LCI ditulis menggunakan aksara Indic yang sangat mirip dengan aksara Kawi, yang digunakan secara luas dalam prasasti era Jawa Kuno. Aksara ini merupakan turunan dari sistem Brahmi India, tetapi telah mengalami adaptasi lokal di Nusantara. Penggunaan aksara yang sama di LCI menunjukkan bahwa ada hubungan budaya atau administratif dengan Jawa.


2. Struktur Bahasa dan Serapan dari Jawa Kuno


Meskipun LCI ditulis dalam bahasa Melayu Kuno (Old Malay), terdapat banyak pengaruh dari bahasa Jawa Kuno (Old Javanese), antara lain:


Kata-kata serapan dari Jawa Kuno, misalnya dang hvan (sejenis gelar kehormatan) yang mirip dengan dang hyaṅ dalam Jawa Kuno.


Struktur kalimat yang lebih kompleks dibandingkan prasasti Melayu lain, yang mengindikasikan pengaruh administratif dari sistem birokrasi Jawa.


Konsep administratif dan hukum, seperti viśuddhapātra (dokumen pembebasan hutang), yang lebih umum ditemukan dalam prasasti di Jawa dan Bali.


3. Gelar dan Struktur Administratif


LCI mencantumkan gelar-gelar yang memiliki kemiripan kuat dengan sistem birokrasi di Jawa. Beberapa di antaranya adalah:


Nāyaka Tuhān – Gelar ini mirip dengan penggunaan tuhān di Jawa, yang berarti pemimpin atau penguasa lokal.


Saṅ Pamgat – Gelar ini juga ditemukan dalam prasasti Jawa dan digunakan untuk pejabat tinggi. Dalam prasasti Jawa, saṅ pamgat sering dikaitkan dengan jabatan administratif atau militer.


Mdang – Sebutan Mdang jelas sekali terbaca dalam LCI mengacu pada Kerajaan Medang di Jawa, yang pada abad ke-8 hingga ke-10 merupakan kekuatan besar di Asia Tenggara.


4. Format dan Fungsi Prasasti


Penggunaan tembaga sebagai media prasasti lebih banyak ditemukan dalam tradisi Jawa dan Bali dibandingkan dengan Filipina atau Sumatra.


Isi prasasti yang mencatat pembebasan hutang mirip dengan format prasasti Jawa yang mencatat transaksi ekonomi, seperti prasasti dari periode Medang yang sering mencatat pajak, status tanah, dan hak istimewa pejabat atau rakyat tertentu.


Sistem perhitungan waktu dalam prasasti menggunakan kalender Śaka, yang lazim digunakan di Jawa dan Bali, bukan kalender lokal Filipina.


5. Konteks Sejarah dan Hubungan Medang dengan Asia Tenggara


Pada abad ke-10, Kerajaan Medang memiliki hubungan erat dengan Sriwijaya dan wilayah lain di Asia Tenggara. Jawa memiliki armada dagang dan pengaruh maritim yang luas, yang memungkinkan penyebaran sistem administratif dan budaya mereka hingga ke Filipina. LCI merupakan bukti bahwa konsep hukum dan birokrasi dari Jawa telah diterapkan di Luzon.


LCI menunjukkan bukti kuat adanya pengaruh Jawa dalam bentuk bahasa, aksara, sistem administrasi, gelar, serta format prasasti. Penyebutan Mdang semakin memperjelas hubungan antara Luzon dan Kerajaan Medang, menandakan bahwa Luzon tidak hanya menjadi bagian dari jaringan perdagangan, tetapi juga terpengaruh oleh sistem administrasi dan budaya dari Jawa.


Kesimpulan


Prasasti Tembaga Laguna adalah bukti konkret dari hubungan regional yang erat antara Luzon, Medang, dan dunia Melayu pada abad ke-10. Dokumen ini menegaskan bahwa Luzon bukanlah entitas yang terisolasi, tetapi merupakan bagian dari jaringan perdagangan dan administrasi Asia Tenggara yang lebih luas. Dengan demikian, studi terhadap LCI dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai dinamika sosial, ekonomi, dan politik kawasan Asia Tenggara pada masa pra-kolonial.


Prasasti ini juga menguatkan peran bahasa Melayu sebagai bahasa administrasi yang melampaui batas etnis dan geopolitik, menjadi alat komunikasi penting dalam transaksi hukum dan diplomasi. Dengan demikian, bahasa Melayu dalam LCI lebih mencerminkan fleksibilitas budaya dan ekonomi dibandingkan dominasi politik satu entitas terhadap yang lain.


---


Daftar Pustaka


Clavé, Elsa & Griffiths, Arlo. 2022. "The Laguna Copperplate Inscription: Tenth-Century Luzon, Java, and the Malay World." Philippine Studies: Historical and Ethnographic Viewpoints, vol. 70, no. 2, pp. 167–242. Ateneo de Manila University.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manusia Wadjak (Homo Wadjakenses)

  Tahun 1888 ditemukan tengkorak manusia di Wajak Tulungagung Jawa Timur, tengkorak itu diberi kode nama sebagai Manusia Wajak. Pada awalnya...