Senin, 17 Januari 2011

MAGETAN LAGI BERSOLEK

2/10/09Mutiara Lawu Nan Lagi Bersolek

Secara administratif, Magetan merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah di sebelah barat, Kabupaten Ngawi di sebelah Utara, Kabupaten Madiun di sebelah Timur dan Kabupaten Ponorogo di sebelah selatan dengan luas wilayah 662,70 Km 2.
Pariwisata
Selama satu dekade terakhir sektor ini menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar dibandingkan dengan sektor lainnya. Telaga Sarangan adalah penyumbang pendapatan terbesar dari sektor ini. Setiap tahunnya tidak kurang dari setengah juta wisatawan domestik maupun mancanegara berduyun-duyun datang ke telaga legendaris yang sudah dikenal sejak zaman kolonial.
Memang tidak bisa dipungkiri, selain fasilitasnya yang cukup representatif, letak strategis, serta sarana dan prasarana memadai, telaga ini juga menawarkan wisata minat khusus yang yaitu wisata Puncak Lawu yang berketinggian 3.625 m dari permukaan air laut. Jika anda berminat menguji nyali dan menambah pengalaman spiritual Puncak Lawu adalah tempat yang amat cocok. Tempat ini pada masa lalu adalah bekas pelarian Prabu Brawijaya V yang melarikan diri dari serangan Demak yang sudah terkalahkan oleh pengaruh Islam. Sampai sekarang pun peninggalan Prabu Brawijaya atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Lawu ini masih berdiri dengan tegak yang diantaranya adalah Argo Dumilah, Guo Segolo-golo, Lumbung Selayur, Pasar Diyeng, dst.
angka kunjungan ke wilayah Puncak Lawu ini selalu melonjak di bulan Syuro tepatnya pada malam 1 Muharram dimana para pengikut atau orang yang percaya akan kekuatan magis berdatangan untuk meminta berkah secara langsung kepada si penguasa Lawu ini.
Selain fasilitas akomodasi hotel, vila dan bungalow, Telaga Sarangan juga melengkapi diri dengan berkembangnya persewaan perahu air, kuda wisata, pasar wisata serta area parkir yang luas. Puncak kunjungan wisatawan ke telaga ini adalah saat diadakannya acara tahunan bertajuk, Labuh Sesaji. Upacara yang sering juga disebut dengan Larung Tumpeng Gono Bahu ini diadakan setiap minggu terakhir di bulan Sya’ban di hari Jumat Pon (penanggalan Jawa).
Selain Sarangan, Magetan juga mempunyai telaga alternatif yang tidak kalah menarik yaitu Telaga Wahyu yang terletak di jalan utama yang menghubungkan kota Magetan dan Sarangan. Air terjun Banyumas, Air Terjun Jarakan, Air Terjun Ngancar, Air Terjun Pundak Kiwo, dan Air Terjun Watu ondo adalah lima air terjun yang sedang dikembangkan. Bagi wisatawan yang menyukai barang-barang kerajinan dan seni, maka kota Magetan adalah tempatnya. Kota kecil nan asri ini mempunyai sentra industri kerajinan kulit , tepatnya di kawasan Selosari. Hasil kerajinan utamanya adalah sepatu, sandal, jaket, tas, topi, dompet dan ikat pinggang. karena produk yang berkualitas dan model produk yang bervariatif, produk kerajinan dan penyamakan kulit Magetan telah mampu menembus pasar mancanegara sehingga menjadikan kota Magetan sebagai "Kota Kulit". bagi petualang kuliner maka tempat rujukan utama yang wajib dikunjungi adalah Ayam Panggang Gandu yang terletak 12 km arah timur kota Magetan. Ayam Panggang Gandu telah mencuri perhatian para pejabat provinsi dan pusat serta arits ibukota untuk mencicipinya. suasana nan asri dan ditambah dengan suara perajin gamelan yang lagi berkarya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditemui di daerah lain. Ayam Panggang Gandu terletak di Desa Gandu Kecamatan Karangrejo.
tak lengkap rasanya kunjungan Anda jika tidak melihat langsung peninggalan warisan budaya di daerah ini. Candi Sadon adalah satu candi yang paling terawat dan dikenal diantara puluhan situs yang ditemukan. candi ini berbentuk menyerupai Reog Ponorogo dan terletak di Desa Cepoko Kecamatan Panekan. tempat wisata yang juga lagi dikembangkan adalah sentra agrobisnis strawberi di Cemorosewu, sentra sayur mayur di Plaosan dan sentra batik tulis di Desa Sidomukti Kecamatan Plaosan.

Pertanian
Masih ada sisi menarik lain dari Magetan selain potensi wisata. Daerah ini adalah sentra tingkat nasional jeruk pamelo (Citrus grandis) atau dikenal sebagai jeruk Bali terbesar di Indonesia. Asal mula nama itu mungkin dikaitkan dengan tiga varietas jeruk pamelo, yaitu pamelo nambangan, pamelo srinyonya, dan jeruk bali merah. Yang terakhir, sekarang dikenal dengan nama pamelo magetan. Ketiga varietas memiliki sentra tanam di Magetan. Sebagai pusat jeruk pamelo, komoditas pertanian unggulan Magetan ini juga memasok kebutuhan di Indonesia. Konsumen bisa mendapatkannya di pengecer atau supermarket, biasanya supermarket di kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Bali. Hingga saat ini, negosiasi langsung antara supermarket dan petani atau pemda setempat belum ada. Mereka masih mendapat pesanan melalui pedagang besar yang juga membeli dari pedagang pengumpul. Mata rantai perdagangan jeruk pamelo khususnya, dan komoditas unggulan lain umumnya di Magetan yang cukup panjang menjadi kendala peningkatan pendapatan petani. Harga di tingkat petani sampai ke tangan konsumen memiliki rentang yang cukup tinggi. Selain dalam negeri, beberapa negara, seperti Thailand, Afrika, RRC, India, dan Australia, juga menyukai buah yang beratnya bisa mencapai 1,5 hingga 2 kg. Namun, mereka tak membeli dari Indonesia karena jeruk ini sudah dibudidayakan di negara-negara itu.
Dari 16 kecamatan di Magetan, 4 kecamatan, yaitu Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan atau yang sering disingkat Beta Suka, pusat penanaman jeruk pamelo. Di kecamatan-kecamatan ini pemandangan yang umum terlihat di pekarangan rumah adalah pohon-pohon jeruk. Tiap rumah rata-rata memiliki di atas dua pohon jeruk pamelo. Komoditas jeruk yang penanamannya dimulai sekitar tahun 1950 itu menjadi ciri bagi penduduk di daerah ini khususnya, dan Kabupaten Magetan umumnya. Rasanya tak sah berkunjung ke Magetan tanpa membawa oleh-oleh jeruk pamelo. sejak sepuluh tahun terakhir pemerintah setempat tidak hanya menjual jeruknya saja akan tetapi sudah dikembangkan diversifikasi produk diantaranya adalah sirup jeruk dan Kormelo "Korma Pamelo". keberadaan industri kecil ini mampu memberikan tambahan penghasilan bagi penduduk di tengah krisis ekonomi yang belum juga membaik. pemasaran kormelo ini sudah memasuki pasar Jakarta dan Surabaya. Karena produksi jeruk yang sedemikian besar dan tumbuhnya industri pengolahan jeruk maka tak salah jika Magetan mendapat julukan sebagai "Bumi Jeruk Pamelo".
Produksi jeruk ketiga varietas pada tahun 2002 sebanyak 25.032 ton, naik sekitar 12 persen dari tahun sebelumnya, 22.335 ton. Terakhir, sedang diupayakan menjalin kerja sama dengan hipermarket besar di Jakarta dan Bandung agar memasok jeruk pamelo berhubungan langsung ke petani. Selain jeruk, masih ada potensi tanaman pangan lain di Magetan. Kondisi wilayah ini cocok untuk pengembangan hortikultura dan tanaman pertanian lainnya. Wilayahnya yang terbagi atas pegunungan dan dataran rendah masing- masing memiliki tingkat kesuburan berbeda. Daerah pegunungan subur ada di Kecamatan Plaosan dengan produk pertanian utamanya sayur-sayuran, seperti kubis, kentang, bawang merah, dan wortel. Adapun dataran rendah yang subur berpusat di Kecamatan Barat, Kartoharjo, Karangrejo, dan Takeran yang banyak memproduksi buah-buahan, seperti mangga, pepaya, dan nangka.
keseriusan pemerintah dalam mengembangkan kawasan agrobisnis terpadu di daerah ini nampaknya harus cepat direalisasikan jika ingin mempercepat pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya dapat memperbaiki mutu sumber daya manusia Magetan yang terbilang cukup rendah.

Mayoritas penduduk Magetan yang bermata pencaharian petani semakin mencirikan keagrarisan wilayah ini. Dari sekitar 454.000 tenaga kerja, 64 persen menggeluti usaha pertanian. Luas lahan pertanian tanaman pangan sekitar 77 hektar dan perkebunan sekitar 5.000 hektar. Masih cukup luas areal untuk pengembangan sektor agraris di wilayah yang luasnya 688.850 hektar ini. Potensi pertanian yang menantang untuk dikembangkan ini sayangnya belum mampu mendongkrak penghasilan penduduk Kabupaten Magetan. Sejak tahun 1999 pendapatan per kapita penduduk tiap tahun tak beranjak dari angka dua jutaan rupiah. Tahun 2002, Rp 2,77 juta, tahun sebelumnya Rp 2,48 juta. Padahal, rata-rata pendapatan per kapita provinsi Rp 5,06 juta di tahun 2001 dan tahun berikutnya naik 14,92 persen menjadi Rp 5,81 juta. Mungkin butuh penanganan lebih serius untuk memajukan bidang lainnya, selain pertanian, agar pendapatan semakin meningkat. Pariwisata, misalnya, yang jelas-jelas sangat berpeluang untuk menambah kas daerah dan juga ekonomi rakyat.

Keseriusan Pemerintah Kabupaten Magetan juga dibutuhkan untuk meningkatkan ekonomi penduduk selain mengatrol kas daerah. Untuk mengefektifkan sumber-sumber pendapatan, tentu butuh dana. Artinya, alokasi dana mestinya paling besar atau minimal lebih besar di antara sektor lainnya. Dari rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2003 Kabupaten Magetan, terlihat dari belanja pembangunan, sektor yang mendapat kucuran dana paling besar adalah aparatur pemerintah dan pengawasan, 35 persen dari total Rp 82,3 miliar. Sektor perdagangan Rp 11,05 miliar atau sekitar 13 persen. Pertanian dan pariwisata masing-masing lima dan 0,4 persen. Rasanya butuh banyak jalan menjaring dana guna mengembangkan kedua sektor ini.

Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Magetan menempati wilayah yang cukup strategis dilihat dari segi apapun. kabupaten ini adalah wilayah provinsi jawa timur yang berbatasan langsung dengan wilayah provinsi jawa tengah yang dibatasi oleh gunung lawu. kabupaten ini juga menghubungkan jalan negara Surabaya-Yogyakarta yang amat sibuk lalu lintasnya. sejak dahulu kala daerah ini sudah dikenal kompeni maupun penjajah asing.
dewasa ini telah dibangun jalan baru cemorosewu, Magetan-Tawangmangu, Karanganyar yang menghubungkan dua tempat wisata unggulan, telaga sarangan dan air terjun grojogan sewu. dibukanya jalur ini juga memungkinkan untuk meramaikan jalur transportasi kota Magetan ke kota-kota di jawa tengah dan jawa timur. proyek ini tentu saja membawa perubahan yang berarti di sektor industri dan perdagangan. jika selama ini produk-produk unggulan magetan dipasarkan lewat kota madiun atau ponorogo dahulu maka setelah proyek ini berjalan lalu lintas perdagangan dengan begitu mudahnya terhubungkan dengan kota solo ataupun jogja dari arah barat. pembangunan jalan ini juga turut memperkecil keterisolasian yang selama ini dirasakan oleh warga. melalui proyek ini lalu lintas perdagangan magetan akan semakin maju dan berkembang.

Oleh
Agung Setiyo Wibowo
Alumni SMA POMOSDA Nganjuk
Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jakarta
Bagus Magetan 2007
Posted by grandsaint on 2/10/2009 04:25:00 PM 0 comments:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar